Peserta PKW 2026, kunjungan UMKM Omah shibori dan Membuat Kain Shibori di Workshop Bundaco

Tanggal 2 Juni 2026 di pertemuan hari ke 6 pada pembelajaran program Pendidikan Kewirausahaan (PKW) 2026, para peserta melakukan kunjungan UMKM Omah Shibori, sekaligus membuat kain shibori dengan tema itajime sekka di Workshop dan Showroom Bundaco, peserta dibimbing langsung oleh bu Erwina Kusmarini, S.S selaku owner Omah Shibori sekaligus instruktur PKW 2026. Sebelum praktek membuat kain shibori, para peserta diajak untuk mengujungi Showroom melihat apa saja produk yang dijual seperti blus shibori, mukena, jilbab, gamis, kemudian peserta juga ke ruangan produksi untuk melihat secara lansung  bagaimana proses produksinya.

Shibori sendiri adalah kain yang dihiasi motif unik hasil dari teknik pewarnaan tradisional asal Jepang dengan cara melipat, mengikat, menjahit, atau menjepit kain sebelum dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Istilah “shibori” berasal dari kata kerja bahasa Jepang “shiboru”, yang berarti memeras, menjepit, atau menekan.

Di Indonesia, hasil kerajinan ini sering dikenal dengan sebutan batik shibori. Meskipun menghasilkan pola yang sekilas mirip dengan batik celup atau jumputan nusantara, shibori memiliki karakteristik dan teknik pelipatan geometris khas Jepang yang sangat terstruktur. Perbedaan utamanya dengan batik tulis atau cap adalah shibori tidak menggunakan malam (lilin) sebagai perintang warna, melainkan mengandalkan ikatan fisik tali, karet, atau kayu penjepit untuk menahan resapan warna.

Pembuatan kain shibori membutuhkan alat dan bahan, antara lain :

  1. Kain: Gunakan kain berbahan serat alami (katun, linen, atau sutra) agar pewarna menyerap dengan sempurna.
  2. Zat Pewarna Kain: Pewarna pakaian tekstil (seperti pewarna remasol, dylon, atau naptol).
  3. Pengunci Warna: Larutan seperti waterglass (untuk pewarna remasol) untuk mengunci warna agar tidak luntur.
  4. Karet Gelang: Paling sering digunakan untuk teknik ikat.
  5. Ember atau Baskom: Wadah untuk proses perendaman dan pewarnaan kain.
  6. Spatula atau Sendok Kayu: Untuk mengaduk larutan pewarna.

Sesuai tema, pembuatan kain shibori dengan tekhnik dasar itajime, yaitu kain dilipat secara teratur sebelum diikat kencang, menghasilkan pola geometris, segitiga atau kotak-kotak yang konsisten.

Kain shibori yang dihasilkan dari tiap peserta, mempunyai warna, corak atau motif yang berbeda-beda sesuai dengan warna yang dipilih dan imajinasi dengan sukacita dari para peserta, hasil dari motif shibori tersebut dapat memberikan kepuasan dan kesenangan tersendiri bagi setiap peserta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *